Sosiologi industry
: perspektif dan modal
Oleh : M.A Smith
Sosiologi
industry adalah suatu subyek yang amat penting dan menarik. Kegunaanya sangat
jelas, karena dunia industry dan pola-pola ekonomi dan struktur industry akan
membentuk masyarakat seperti kita, identitas sosial kita dan gaya hidup kita
serta membentuk bentuk masyarakat dimana kita hidup.
Radikalisme
Sosiologis
Pengkajian sosial membahas berbagai
kontroversi di dalam masyarakat berkenaan dengan usaha mendapatkan dan
mendisribusikan sumber-sumber kekuatan politik, ekonomi dan mendisribusikan
sumber-sumber kekuatan politik, ekonomi dan sosial di dalam masyarakat. Setiap
hasil penelitian selalu mengungkapkan berbagai bentuk ketidakadilan di alam
masyarakat, seperti pekerja diperbudak oleh teknologi yang tidak manusiawi,
kecenderungan membentuk birokrasi dan ketertutupan organisasi berskala besar,
kekacauan dalam kehidupan keluarga, semakin tajamnya perbedaan antara berbagai
anggota kelompok masyarakat, dan munculnya hal-hal yang di luar perhitungan di
dalam perencanaan regional dan local, pokoknya hal-hal yang tidak manusiawi
dalam kehidupan manusia.
Bagaimana mungkin sosiologi
menentang eksistensi aturan-aturan sosial, ekonomi dan politik yang sudah mapan
dengan kritik-kritikanya yang radikal? Kritik radikal ini berasal dari tradisi
eropa pada bad ke-19 yang merupakan kombinasi suatu analisa kapitalisme
industry dengan suatu model penelitian ilmiah tingkah laku manusia. Adalah
suatu yang logis yang didasarkan atas pengunaan science dan analisa empiris
dari gejala-gejala alam. Indrustrialisme merupakan suatu pusat perubahan yang
menjadi sasaran utama pada kritikus sosiologi.
Max weber melihat adanya suatu
bahaya akibat industrialisasi terhadap kebebasan individu dan integritas
ilmu-ilmu sosial. Industrialisme adalah hasil dari pertumbuhan rasionalisme,
rasionalitas dapat di pandang melalui pertumbuhan science yang mengakibatkan
sekularisasi nilai-nilai tertentu dalam masyarakat serta luluhnya pengaruh
dunia barat. Fungsi rasionalisme adalah untuk membuktikan adanya pertumbuhan
birokrasi dan dominasi struktur otoritas yang hirarkis.
Menurut weber kebudayaan manusia
tidak terbentuk hanya dari suatu system ekonomi, dan bukan juga suatu hasil
dari refraksi pertarungan antar kelas. Emil Durkheim juga menyatakan dalam
thesisnya bahwa pembagian kerja dalam masyarakat, serta perbedaan tugas dan
aturan adalah sumber dari perbedaan hirarki seseorang atau kelompok dalam
masyarakat dan juga merupakan sumber terbentuknya organisasi-organisasi sosial
(Giddens, 1971).
Radikalisme sosiologi berasal dari
abad ke-19 telah menimbulkan pergorakan dalam masyarakat. Diagnose kapitalisme
industry yang sedan menderita telah menimbulkan suatu pandangan bahwa sosiologi
mempunyai dua buah tujuan yaitu pandangan bahwa sosiologi mempunyai dua buah
tujuan yaitu eksitensi kebebasan individu dan revolusi kebebasan masyarakat.
Peter Berger (1971, hal 2 ) telah menyatakan bahwa hubungan antara sosiologi dan
kebebasan bukanlah merupakan suatu hubungan yang sederhana seperti yang
dikatakan oleh kaum radikal yang ahrus mempercayai untuk memahami hubungan
tersebut, perlu di adakan diskusi-diskusi tentang issue utama kedua, yaitu
tentang revolusi kebebasan masyarakat, yang oleh para teorisi abad 19 telah di
terima sebagai suatu kebenaran.
Karl Max dan weber dan Durkheim,
sebagai contoh perwujudan tradisi eropa klasik yang di anggap sebagai lambing
ilmiah dari sosiologi, yang dengan kemampuan mereka untuk memisahkan fakta dari
nilai telah menyumbangkan sesuatu yang disebut oleh Mills sebagai “kedaulatan
sosiologi” (Mills. 1959). Secara ekplisit Karl Max menolak pendapat suatu
bentuk rasionalisme yang memisahkan peneliti dari subyek yang telah di
telitinya.
Sumbangan Weber terhadap status
sosiologi sebagai suatu science perlu pertimbangan. Posisinya dapat di
karakteristikan dalam tiga kriteria, yaitu :
1.
selalu memisahkan fakta dari nilai.
2.
tidak pernah berpura-pura mengambil kesimpulan hanya dari fakta.
3.
tidak pernah menggunakan pbyektivitas sbagai cara untuk memahami akan keacuhan
terhadap nilai-nilai moral.
Weber
mengabaikan kenyataan sosial sebagai variable tanpa batasan. Fungsi sosiologi
adalah memperbaiki suatu kerangka konsepsional dengan cara yang cukup logis.
Weber benpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mencoba untuk memahami dan
menerangkan suatu tindakan sosial beserta sebab-sebab akibatnya. (Weber, 1949)
Durkheim berpandangan bahwa adanya
suatu persamaan atau kesesuaian antara “model ilmiah” dari suatu ilmu
pengetahuan dengan pengertian tentang hubungan antara manusia dengan masyarakat
adalah suatu yang tidak perlu diragukan lagi, sosiologi selalu berkaitan dengan
fakta-fakta sosial dan fakta sosial adalah sesuatu yang merupakan hasil
teknik-teknik kuantitatif dan hasil dari pengujian nilai-nilai dalam ilmu
pengetahuan alam.
Pandangan para ahli sosiologi di
bagi kedalam beberapa kelompok yang didasarkan atas issue-issue berikut ini. Dapatkah
sosiologi menjadi suatu ilmu yang bebas nilai (netral yang tidak memihak)?
Sampai seberapa jauh kemmpuan metode ilmiah untuk bisa memahami keinginan dan
tingkah laku manusia yang bermacam-macam.?
Ilmu
pengetahuan mempunyai dua tujuan yaitu :
1) Untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan yang mempelajari alam semesta dan evolusinya, komposisi serta
strukturnya.
2) Untuk mengungkapkan hokum yang
berlaku di alam semesta, beserta polanya yang universal dan kecenderungan-nya.
Sosiologi ternyata sejalan dengan
kedua tujuan tersebut. Keinginan yang gigih untuk menjadikan sosiologi sebagai
suatu ilmu yang aplikatif dengan cara mengamati evolusi, komposisi dan struktur
serta berbagai efek di dalam kehidupan masyarakat misalnya degradasi
norma-norma sosial tertentunya adanya berbagai perbedaan dalam bentuk strata sosial.
Sekarang
sudah jelas bahwa suatu penilaian secara sosiologis tentang ruang lingkup
pekerjaan dan kehidupan organisasi ekonomi dan industry kelak berkembang
menjadi suatu pusat konsepsional dan issue-issue empiris.
MODEL
SOSIOLOGI
Di akui bahwa pemikiran radikal di dalam
sosiologi telah memberikan suatu pukulan terhadap struktur dan model-model
sosiologi yang telah di kembangkan sebelumnya. Kritik kapitalisme tentang
politik dan ekonomi dan kaitanya baik dengan karakter aturan sosial maupun
dengan tindakan sosial telah menjadi focus utama dalam pembicaraan sebelumnya.
Di dalam ekonomi kita mengenal ekonomi micro dan macro demikian hal nya dengan
sosiologi istilah yang sama juga di sebut dengan sosilogi micro dan sosiologi
macro, yang disebut pertama berkaitan dengan struktur lembaga-lembaga
kemasyarakatan, pola yang sudah mapan dan tingkah lakunya dan hubungan-hubungan
serta kepentinganya yang sudah stabil. Dalam dunia ekonomi dan dunia kerja serta
industry ada beberapa pertanyaan yang perlu di ungkapkan meliputi:
S System
ekonomi yang bagaimana yang kita pilih dan bagaimana pola-pola hak pemilikan,
kekyaan dan pendapatan para anggota masyarakatnya?
-
Bagaiamna
karakter hierarchie sosialnya dan bagaimana hubunganya dengan hierarchie
industry dan organisasi dalam masyarakat?
-
Apakah
pengaruh dari teknologi terhadap masyarakat?
-
Bagaimana
hubungan antara nilai-nilai ekonomi dan nilai-nilai politik dalam hal tujuan
dan cita-citanya.
Pertanyaan di atas muncul dalam
analisa sosiologi makro dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara dunia
dengan kehidupan politik dengan struktur dan partai-partai politik,
karakteristik system serta aturan-aturan pemerintahan.
Pendekan
sosiologi makro ditujukan untuk mengtur komponen-komponen utama dalam tinjauan
sosiologi terhadap masyarakat. Di dalam buku ini sosiologi makro digunakan
untuk pelajari suatu system sosialyang terdapat dalam masyarakat industry,
dengan penekanan terhadap analisa ekonomi dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.