Minggu, 23 Oktober 2016

Resume Sosiologi Industri Bab I




 
Sosiologi industry : perspektif dan modal
Oleh : M.A Smith

Sosiologi industry adalah suatu subyek yang amat penting dan menarik. Kegunaanya sangat jelas, karena dunia industry dan pola-pola ekonomi dan struktur industry akan membentuk masyarakat seperti kita, identitas sosial kita dan gaya hidup kita serta membentuk bentuk masyarakat dimana kita hidup.
Radikalisme Sosiologis
            Pengkajian sosial membahas berbagai kontroversi di dalam masyarakat berkenaan dengan usaha mendapatkan dan mendisribusikan sumber-sumber kekuatan politik, ekonomi dan mendisribusikan sumber-sumber kekuatan politik, ekonomi dan sosial di dalam masyarakat. Setiap hasil penelitian selalu mengungkapkan berbagai bentuk ketidakadilan di alam masyarakat, seperti pekerja diperbudak oleh teknologi yang tidak manusiawi, kecenderungan membentuk birokrasi dan ketertutupan organisasi berskala besar, kekacauan dalam kehidupan keluarga, semakin tajamnya perbedaan antara berbagai anggota kelompok masyarakat, dan munculnya hal-hal yang di luar perhitungan di dalam perencanaan regional dan local, pokoknya hal-hal yang tidak manusiawi dalam kehidupan manusia.
            Bagaimana mungkin sosiologi menentang eksistensi aturan-aturan sosial, ekonomi dan politik yang sudah mapan dengan kritik-kritikanya yang radikal? Kritik radikal ini berasal dari tradisi eropa pada bad ke-19 yang merupakan kombinasi suatu analisa kapitalisme industry dengan suatu model penelitian ilmiah tingkah laku manusia. Adalah suatu yang logis yang didasarkan atas pengunaan science dan analisa empiris dari gejala-gejala alam. Indrustrialisme merupakan suatu pusat perubahan yang menjadi sasaran utama pada kritikus sosiologi.
            Max weber melihat adanya suatu bahaya akibat industrialisasi terhadap kebebasan individu dan integritas ilmu-ilmu sosial. Industrialisme adalah hasil dari pertumbuhan rasionalisme, rasionalitas dapat di pandang melalui pertumbuhan science yang mengakibatkan sekularisasi nilai-nilai tertentu dalam masyarakat serta luluhnya pengaruh dunia barat. Fungsi rasionalisme adalah untuk membuktikan adanya pertumbuhan birokrasi dan dominasi struktur otoritas yang hirarkis.
            Menurut weber kebudayaan manusia tidak terbentuk hanya dari suatu system ekonomi, dan bukan juga suatu hasil dari refraksi pertarungan antar kelas. Emil Durkheim juga menyatakan dalam thesisnya bahwa pembagian kerja dalam masyarakat, serta perbedaan tugas dan aturan adalah sumber dari perbedaan hirarki seseorang atau kelompok dalam masyarakat dan juga merupakan sumber terbentuknya organisasi-organisasi sosial (Giddens, 1971).
            Radikalisme sosiologi berasal dari abad ke-19 telah menimbulkan pergorakan dalam masyarakat. Diagnose kapitalisme industry yang sedan menderita telah menimbulkan suatu pandangan bahwa sosiologi mempunyai dua buah tujuan yaitu pandangan bahwa sosiologi mempunyai dua buah tujuan yaitu eksitensi kebebasan individu dan revolusi kebebasan masyarakat. Peter Berger (1971, hal 2 ) telah menyatakan bahwa hubungan antara sosiologi dan kebebasan bukanlah merupakan suatu hubungan yang sederhana seperti yang dikatakan oleh kaum radikal yang ahrus mempercayai untuk memahami hubungan tersebut, perlu di adakan diskusi-diskusi tentang issue utama kedua, yaitu tentang revolusi kebebasan masyarakat, yang oleh para teorisi abad 19 telah di terima sebagai suatu kebenaran.
            Karl Max dan weber dan Durkheim, sebagai contoh perwujudan tradisi eropa klasik yang di anggap sebagai lambing ilmiah dari sosiologi, yang dengan kemampuan mereka untuk memisahkan fakta dari nilai telah menyumbangkan sesuatu yang disebut oleh Mills sebagai “kedaulatan sosiologi” (Mills. 1959). Secara ekplisit Karl Max menolak pendapat suatu bentuk rasionalisme yang memisahkan peneliti dari subyek yang telah di telitinya.
            Sumbangan Weber terhadap status sosiologi sebagai suatu science perlu pertimbangan. Posisinya dapat di karakteristikan dalam tiga kriteria, yaitu :
1. selalu memisahkan fakta dari nilai.
2. tidak pernah berpura-pura mengambil kesimpulan hanya dari fakta.
3. tidak pernah menggunakan pbyektivitas sbagai cara untuk memahami akan keacuhan terhadap nilai-nilai moral.
Weber mengabaikan kenyataan sosial sebagai variable tanpa batasan. Fungsi sosiologi adalah memperbaiki suatu kerangka konsepsional dengan cara yang cukup logis. Weber benpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mencoba untuk memahami dan menerangkan suatu tindakan sosial beserta sebab-sebab akibatnya. (Weber, 1949)
            Durkheim berpandangan bahwa adanya suatu persamaan atau kesesuaian antara “model ilmiah” dari suatu ilmu pengetahuan dengan pengertian tentang hubungan antara manusia dengan masyarakat adalah suatu yang tidak perlu diragukan lagi, sosiologi selalu berkaitan dengan fakta-fakta sosial dan fakta sosial adalah sesuatu yang merupakan hasil teknik-teknik kuantitatif dan hasil dari pengujian nilai-nilai dalam ilmu pengetahuan alam.
            Pandangan para ahli sosiologi di bagi kedalam beberapa kelompok yang didasarkan atas issue-issue berikut ini. Dapatkah sosiologi menjadi suatu ilmu yang bebas nilai (netral yang tidak memihak)? Sampai seberapa jauh kemmpuan metode ilmiah untuk bisa memahami keinginan dan tingkah laku manusia yang bermacam-macam.?
Ilmu pengetahuan mempunyai dua tujuan yaitu :
1)      Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta dan evolusinya, komposisi serta strukturnya.
2)      Untuk mengungkapkan hokum yang berlaku di alam semesta, beserta polanya yang universal dan kecenderungan-nya.
Sosiologi ternyata sejalan dengan kedua tujuan tersebut. Keinginan yang gigih untuk menjadikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang aplikatif dengan cara mengamati evolusi, komposisi dan struktur serta berbagai efek di dalam kehidupan masyarakat misalnya degradasi norma-norma sosial tertentunya adanya berbagai perbedaan dalam bentuk  strata sosial.
      Sekarang sudah jelas bahwa suatu penilaian secara sosiologis tentang ruang lingkup pekerjaan dan kehidupan organisasi ekonomi dan industry kelak berkembang menjadi suatu pusat konsepsional dan issue-issue empiris. 

MODEL SOSIOLOGI   
       Di akui bahwa pemikiran radikal di dalam sosiologi telah memberikan suatu pukulan terhadap struktur dan model-model sosiologi yang telah di kembangkan sebelumnya. Kritik kapitalisme tentang politik dan ekonomi dan kaitanya baik dengan karakter aturan sosial maupun dengan tindakan sosial telah menjadi focus utama dalam pembicaraan sebelumnya. Di dalam ekonomi kita mengenal ekonomi micro dan macro demikian hal nya dengan sosiologi istilah yang sama juga di sebut dengan sosilogi micro dan sosiologi macro, yang disebut pertama berkaitan dengan struktur lembaga-lembaga kemasyarakatan, pola yang sudah mapan dan tingkah lakunya dan hubungan-hubungan serta kepentinganya yang sudah stabil. Dalam dunia ekonomi dan dunia kerja serta industry ada beberapa pertanyaan yang perlu di ungkapkan meliputi:
          
S    System ekonomi yang bagaimana yang kita pilih dan bagaimana pola-pola hak pemilikan, kekyaan dan pendapatan para anggota masyarakatnya?
-         Bagaiamna karakter hierarchie sosialnya dan bagaimana hubunganya dengan hierarchie industry dan organisasi dalam masyarakat?
-          Apakah pengaruh dari teknologi terhadap masyarakat?
-          Bagaimana hubungan antara nilai-nilai ekonomi dan nilai-nilai politik dalam hal tujuan dan cita-citanya.

Pertanyaan di atas muncul dalam analisa sosiologi makro dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara dunia dengan kehidupan politik dengan struktur dan partai-partai politik, karakteristik system serta aturan-aturan pemerintahan.
      Pendekan sosiologi makro ditujukan untuk mengtur komponen-komponen utama dalam tinjauan sosiologi terhadap masyarakat. Di dalam buku ini sosiologi makro digunakan untuk pelajari suatu system sosialyang terdapat dalam masyarakat industry, dengan penekanan terhadap analisa ekonomi dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.